John Dewey, seorang filsuf dan pendidik Amerika, memiliki keyakinan mendalam bahwa pendidikan adalah proses seumur hidup yang terjadi melalui pengalaman. Ia menolak pendekatan pembelajaran yang hanya berfokus pada hafalan. Bagi John Dewey, sekolah haruslah menjadi miniatur masyarakat, tempat anak-anak dapat belajar melalui melakukan, berkolaborasi, dan memecahkan masalah-masalah nyata.
Dewey berpendapat bahwa kurikulum harus relevan dengan kehidupan siswa. Ia menekankan pentingnya “learning by doing” atau belajar sambil melakukan. Anak-anak seharusnya tidak hanya membaca tentang sains, tetapi juga melakukan eksperimen. Mereka tidak hanya belajar sejarah dari buku, tetapi juga melalui kunjungan ke museum dan wawancara dengan orang tua.
Pendekatan ini berlawanan dengan model pendidikan tradisional yang menekankan transmisi pengetahuan dari guru ke siswa. Bagi John Dewey, pendidikan adalah proses interaksi aktif antara siswa dan lingkungan mereka. Guru berperan sebagai fasilitator yang membantu siswa menavigasi dan memahami dunia di sekitar mereka.
Sementara itu, Paulo Freire, filsuf pendidikan dari Brasil, menawarkan perspektif yang sama revolusionernya. Freire mengkritik keras “pendidikan gaya bank,” di mana guru “menyimpan” pengetahuan ke dalam siswa yang pasif. Ia berpendapat bahwa model ini melanggengkan penindasan dan menumpulkan kesadaran kritis.
Freire mengajukan “pendidikan pembebasan,” di mana pendidikan menjadi alat untuk membebaskan manusia dari penindasan. Model ini berfokus pada dialog, partisipasi, dan pemecahan masalah. Guru dan siswa adalah mitra yang setara, belajar bersama melalui percakapan tentang isu-isu yang relevan dengan kehidupan mereka.
Gagasan John Dewey dan Paulo Freire, meskipun berasal dari konteks yang berbeda, saling melengkapi. Keduanya menolak model pendidikan yang kaku dan otoriter. Keduanya percaya bahwa pendidikan sejati adalah tentang memberdayakan siswa untuk menjadi pemikir kritis yang dapat bertindak untuk mengubah dunia mereka.
Membangun sekolah masa depan berarti menggabungkan gagasan-gagasan ini. Ini berarti menciptakan lingkungan yang demokratis, di mana siswa memiliki suara dan agensi dalam pembelajaran mereka. Ini berarti kurikulum yang relevan, yang menghubungkan apa yang dipelajari di kelas dengan kehidupan di luar.